Kapan ya Pak ?? :)
Anthurium di sini, sekarang sudah sejatinya daun. Mungkin kalaupun nanti disana ada juga, daunnya gak sekedar daun, tapi wangi kesturi. Di sana pasti menyenangkan, nanti undang Tono segera ke sana ya ? Tono punya kabar yang tersimpan rapi di saku, ada jam tangan Rolex dan yang seharusnya ada pemantik Zippo, pengennya ada kado pena Parker juga. Tapi sekarang, tinggal tulangku yang menunggu dan meranggas menjejaki umur. Maaf juga ya Pak, belakangan ini lembaran-lembaran kosong yang sering Tono kirimkan. Tono ingin kau mengirim balik ke sini, ceritakan juga daun wangi kesturi itu, siapkan juga benihnya, nanti kalau Tono sudah di sana kita menanamnya bersama :)
_Sunflower in the Morning_
Ketika kami masih seperti anak bebek kami sekarang dan kalian sejatinya adalah induk kami. Apa yang terbersit dalam pikiran kalian ketika kami berpikiran lebih matang, bagaimana respon kalian ? Sekarang aku melihat sesuatu yang semakin samar di wajah kalian dan aku siap melampaui tingkat itu. Saatnya aku melihat bertambahnya anak kecil disampingku dan wajah kalian semakin suram menengok kebelakang dan tertunduk. Wajahku masih pada satu arah yang sama, melihat ke depan dan menengadah. Di depan, kami siap meluncur lebih cepat dari kalian !!
_DarkGoerge_
Ikan Lemon
Ada batas karang antara daratan dan lautan
Keduanya disimpul erat di antara ruang dan waktu
Susunan-susunan jala sebagai manifestasi pemikiran manusia
Tidak terlibat dalam lingkaran angka dan petak teka-teki
Sekarang, saatnya terjun menghujam pada realita
Lingkaran kaca menjadi sisi melingkupi nafas kita
Melihat ke dunia luar yang luas, namun terbatas
Tidak akan pernah ada sepenggal kata yang tereja di udara
Nyaris tidak ada gelembung dan buih, tidak ada kerlip pada konstelasi bintang raya
Namun, beberapa di antaranya menumbuk bumi
Merajam godam, membuat hati turut berdenyar
Di dalam bejana kaca semuanya akan berubah
Menjadi benda kuning dan bayangannya bersama air, melayang
Aku tenggelam di setengah ketinggian air, sendiri
Ada cahaya menyesap ke dalam mata
Di suatu tempat, jiwa dan akalku berkelana
Menjamah sebuah tempat dengan jajaran cendana dan beringin tua
Nafasku terlepas dan aku tak pernah memejamkan mata
Lentera
Nafasmu hanya sebatas lika-liku nyala api
Di dalam kertas dan kain lilin yang menyelimuti, kau meliuk dan terhempas
Menjejaki terang kepada bayangan yang turut bergoyang
Kau tetap berpendar, meski bara yang tersisa dengan udara yang kau habiskan
Di sekitar suram dan sisi yang redup nyalamu berbinar
Di sini, geranganmu bergelayut pada senja
Pada tepian batas antara siang dan malam percikanmu tetap terasa
Menyesap benderang di sudut mata
Sepenggal kisah kemenanganmu selalu terukir
Pada setiap lorong-lorong jiwa kami sekarang
Tertanam, menghujam pada labirin lembab dan pengap
Tempat kita beradu mesra dengan kegelapan
Seberkas cahaya merajut tipis dalam lingkar harapan
Seperti selongsong peluru yang terlepas dari badan senapan
Kosong, tak bertuan, tak berpuan
Maut yang mengulur jeruji rodamu pada pemberhentian
Dan detik yang jatuh tidak lagi kau dengar
Sesegera, irama nafas menjelang lirih dan terpukul pilu
Sedihku turut meleleh di tepian kelopak mata
Lidah yang terrasa kelu dan dada yang terrasa penuh
Dengan gemertak gigi yang menjelang,
Aku menepis berita dari suar mulut sang jalang
Kini tinggal namamu tetap tersirat pada huru hara yang melintang
Ada setumpuk keliping yang menyajikan lengkung tipis di batas bibir
Sembab laraku telah pergi, kini Aku merajut kidung menuju terang
Berharap ada semangat yang kau kirim bersama hujan
Menunggu waktu diperlintasan usia, hingga fajar tak sempat bersandar
Aku akan segera menyapamu, dari jendela di sisi istana Mayapada
Pagi-pagi, aku mengitari pematang sawah di kaki Argopuro saat matahari masih malu merekah di balik punggung Raung. Luasnya tak kupikirkan seberapa luas ukuran pastinya, yang aku tahu sangatlah luas. Di suatu sudut, aku melihat pemandangan yang kusorot perlahan, berayun lembut memantulkan seberkas cahaya yang menerpanya. Aku mendekatinya…
-Reliefness-
Setengah Rembulan
Malam, sajak-sajakku tak seramai bintang yang menyelinap di tubuhmu
Beberapa jubah awan, kerap kali menutup seringai malumu
Semakin larut, semakin benderang
Aku melihat setengah wajah bulan
Di balik bayang bumi, di atas tiang tancang
Perjalananku tidak berhenti pada perjumpaan malam
Aku bertemu cerita yang terbingkai seiring bertambahnya waktu
Runtuh dan berganti di setiap ujung jarum jam yang terhentak detik
Di setiap putarannya, ada seuntai kalimat yang tidak pernah sama
Tidak akan pernah berulang, beberapa menjadi sejarah yang lain akan sirna
Aku beranjak menuju seperempat bagiannya
Embun tipis menapak letih di permukaan daun
Angin turut mengeja desir aliran darahku
Dingin yang kusambut, semakin merapatkan kedua tanganku
Dan tubuhku menyambutnya layaknya sepasang kekasih
Ku lanjutkan menuju dua per tiga jam menuju pagi
Sulut mentari masih terasa padam
Dan angin tak hendak berkutik dari kaki bukit
Di sudut langit, bulan tetap setengah dan mengecil di telan jarak edar yang menjauh
Di sisi lain, geliat manusia terasa bangkit
Hari semakin muda dari kegelapan yang telah dilaluinya
Binar rembulan semakin samar diterpa rona fajar
Sesekali angin menyelinap, menegakkan rambut di sekujur tubuhku
Pesan dari malam belum lagi terbaca
Aku menepisnya dari beranda rumah dengan nyala lentera
Ia berbisik, “Lagi-lagi kau lupa !
Kau tepis aku yang membawakan pesan
Nyala lentera di beranda menyanderaku di hadapanmu
Yang kau lihat hanya pekatnya diriku”
Sesekali kuhembuskan nafasku yang mengepul
“Akulah yang akan menemanimu, di antara tiang-tiang yang menjulang pasi
serta akar kamboja dan bunganya yang menapaki pusaramu
kau seperti pengecut, masih saja berteman dengan rembulan yang bergelayut di tubuhku”
Waktu
Detik,
Ia iri akan umur yang dirasa oleh menit,
Ia meniti hidup yang singkat lalu berserakan
Tanpa bisa menemani sebuah liku perjuangan
Merasa terbatas, hanya sebagai saksi menatap tragedi singkat
Menit,
Detik mengurungkan niatnya
Tanpa ada syukur atas singkat hidupnya
Berlalu cepat dan silih berganti
“Detik tidak diberi kesempatan untuk berbuat salah, ia beruntung
Ikhtiarnya yang terasa kental di langit-langit surga”
Ia melirik Jam,
“Menyinggung perasaan kaku dari guguran detik”
Sungguh, beribu kesempatan ia dapatkan
begitu banyak kesempatan untuknya beribadah
Ikhtiar ciptaan yang dirindukan surga
Dengan waktu melimpah untuk berbenah
Jam,
Ia tersudut lesu
Kedua lengannya yang hanya pasrah menunjuk arah yang berlainan
Setiap saat, baginya semua adalah sama dan berulang
“Aku membunuh ribuan detik dengan kedua lenganku.
Menjatuhkannya, terserak tak berdaya”
Ia bingung menjadi saksi tersudutkan
Nama yang disebut berulang, tanpa ada pembelaan dan kebenaran yang seharusnya diungkap
Dia hanya terbungkam
Dengan poros berputar, menerjang tiap detik di depan
Merasa terlewatkan
Namun, mereka selalu bersama dalam satu hal
Menjadi batas yang jarang disadari oleh manusia
Kenyataannya waktu terlalu bebas untuk mengundang maut semakin mendekat
Satu Detik
Deru ribuan detik mengisi relung dan bilik kehidupanku
Setiap ruas tulang jemariku, menggelitik lincah
Menghitung setiap bagian waktu yang jatuh dirajam detik
Satu, dua utas tangkai nafas kusimpul erat
Tiga, empat hela nafas kuhembuskan perlahan dengan kelegaan
Ada lingkar-lingkar yang ditunjuk ujung jarum jam
Berputar pada irama dan jarak yang senada sebirama
Kita merapat, sedekat bibir yang berucap dan telinga yang menyimak
Kita melebar, memperluas jarak lingkar seluas dzikir yang kita terbangkan
Satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu hari
Satu jam, satu menit, satu detik
Dari hari menuju tahun, dari satu detik yang berangsur
Kebaikan di setiap detik, menuju satu menit beranjak satu jam
Berlanjut satu hari dan usang, hingga satu tahun berlalu
Berulang dan kembali pada satu detik yang tidak akan pernah sama
Dihimpun dari satu detik, satu tahun ke depan kembali menjelang
Indigo
ada kerlip dan detak jantung yang menunggu di kejauhan
degup yang terasa hambar di setiap bilik-bilik jiwa meranggas
sayup-sayup aku mendengar kembali derap di atas lantai kamar dasar
aku merasakan hembusan hangat dan segar
keluar dari sayap yang terkembang dari kepompong yang jalang
rerebahan rumput sabana yang semakin menggersang
ada akar ketandusan yang menghujam dalam
namun, sesekali ada sinar yang menegakkan benang merah di antara dua pusaran
Kau selalu memberikan kesejukkan
menghadirkan rimbunan pohon kurma yang selalu hijau pada teriknya gurun
ada zaitun yang selalu meneduhkan di jajaran bukit tursina
aku menengadah, keitka desir darah tak lebih dekat dari gairah keyakinan yang kau alirkan ke sekujur tubuhku
lututku akan aku letakkan untuk berserah dan tunduk dihadapann-Mu dengan rendah
Mengenalmu, Semeru
Saat rembulan jenuh berbinar
Embun malam pun masih menggeliat berat di lantai bumi
Aku dan kau masih diijinkan hidup untuk berbenah dalam perjumpaan kali ini
Suar nyaring adzan subuh yang menggema
Melirihkan dengkur pulasmu
Aku beranjak turun menyusuri jalur trotoar kotamu
dan kau mulai terjaga mendengarkan riuh kota yang terbangun dari malam
Lalu kita beranjak mendekat menuju detik perjumpaan yang segera runtuh
lalu kita lanjutkan beberapa ribu detik kedepan dengan gurau dan tawa yang membahana
Ada saksi di setiap sela nafas yang kuhirup
Ada semangat yang tersirat dari gurat bibir yang tersenyum tipis
Saat aku merasakan hempasan angin malam yang membawa kelu
Aku memupuk asa akan hangat mentari di pagi hari
Di kakinya, hamparan pepohonan bagaikan pasukan tempur di medan laga
Aku terkesima, tertunduk : mahakarya Tuhan alam semesta, sungguh terdapat kuasa-Mu di setiap helai daun yang Kau kehendaki
Di setiap degup jantung, ada berulang kali tasbih
Di setiap derap langkah, ada semangat untuk menyusuri lerengmu
Ada memori yang aku bawa dan kukemas dalam cerita
Ada sejarah yang kutinggalkan bersama air di celah punggunganmu