T.r.æ.k.a.s.s.e

Inside, I put my mind

Reblogged from skeptv

skeptv:

Genius Materials on the ISS

Researchers working with magnetic fluids on the International Space Station are taking “smart materials” to the next level. With proper coaxing, molecules can assemble themselves into “genius materials” with surprising properties. This is opening a new frontier in material science.

Visit http://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2013/27nov_genius/ for more!

via Science At NASA.

Reblogged from biocanvas

biocanvas:

White blood cells circulating in a live mouse

Like police on patrol, white blood cells hunt for potential viruses, bacteria, and other pathogens within the tiny vessels surrounding our tissues. In this video of a mammary gland from a live lactating mouse, white blood cells can be seen moving slowly in and around the breast tissue. The fast moving green cells are red blood cells, delivering oxygen to the tissue.

Video by Dr. Roberto Weigert and Dr. Andrius Masedunskas, National Institutes of Health.

Manis-manis Masam

Ada lelaki tua yang mengikatkan kail di ujung anak pancing

Di sebelahnya, anak perempuan menyerut bambu dan menggulung tali

Bersama mereka anak perempuan lebih muda meletakkan bubu di tepi kali

Diseberangnya ada bayi laki-laki membawa keranjang ikan dan dibuatnya berlayar

Saat itu matahari beranjak berselimut mendung

Suatu kaum

Ada sudut gelap di suatu ruang jagal

Kerap sekali terdengar decap bibir dan degup babi meregang nyawa

Di sana bagaikan sangkar maut yang tak hendak pergi

Tangan dan pakian yang berlumuran lumpur berwarna merah

Setiap hari sedikitnya 10 babi, 20 kambing dan 3 sapi

Darah mereka menyeruakkan anyir yang mengisi udara

Daging mereka disayat, kepala mereka dibelah, tulangnya dipecah

Entah mereka mengeram dan tangisnya sudah bercampus darah

Di salah satu ruangan,

tiga bocah yang darahnya halal

dan enam janda yang sama halal

lainnya adalah kepala bertanduk yang menyaksikan

Di Bawah Kolong Fajar

Setiap bayangan di pelupuk mataku menguap letih bersama embun pagi

Bayang-bayang jenuh di semburat jingga yang merekah

Telah luruh bersama uap air cabang anak kali

Waktu terasa begitu dini

Bersama samar rintik hujan yang menjenuh di udara

Akhirnya memenuhi nafasku dengan kepulan asap merindu

DI setiap pagi menjelang

Terdengar gegap gempita kota yang menggeliat dari malam

Seringai burung camar dan mesin-mesin tongkang beradu cecar dengan keributan pasar

Hai, kau melintas dengan perahu di atas cabang anak kali

Wangimu tertimbun latar anyir ikan di pelelangan

Gurat-gurat di pinggir jalan dan keriput di wajahmu menjejakki usiamu

Meretas setiap detik yang telah kau gunakan selama ini

Hingga kau hafal, di setiap pagi

Merindukan wangi-wangi yang tak banyak dirindukan orang saat ini

Kau mengadu di bawah kubah di setiap fajar yang menagih usiamu

"

Kapan ya Pak ?? :)

Anthurium di sini, sekarang sudah sejatinya daun. Mungkin kalaupun nanti disana ada juga, daunnya gak sekedar daun, tapi wangi kesturi. Di sana pasti menyenangkan, nanti undang Tono segera ke sana ya ? Tono punya kabar yang tersimpan rapi di saku, ada jam tangan Rolex dan yang seharusnya ada pemantik Zippo, pengennya ada kado pena Parker juga. Tapi sekarang, tinggal tulangku yang menunggu dan meranggas menjejaki umur. Maaf juga ya Pak, belakangan ini lembaran-lembaran kosong yang sering Tono kirimkan. Tono ingin kau mengirim balik ke sini, ceritakan juga daun wangi kesturi itu, siapkan juga benihnya, nanti kalau Tono sudah di sana kita menanamnya bersama :)

_Sunflower in the Morning_

"

"

Ketika kami masih seperti anak bebek kami sekarang dan kalian sejatinya adalah induk kami. Apa yang terbersit dalam pikiran kalian ketika kami berpikiran lebih matang, bagaimana respon kalian ? Sekarang aku melihat sesuatu yang semakin samar di wajah kalian dan aku siap melampaui tingkat itu. Saatnya aku melihat bertambahnya anak kecil disampingku dan wajah kalian semakin suram menengok kebelakang dan tertunduk. Wajahku masih pada satu arah yang sama, melihat ke depan dan menengadah. Di depan, kami siap meluncur lebih cepat dari kalian !!

_DarkGoerge_

"

Ikan Lemon

Ada batas karang antara daratan dan lautan
Keduanya disimpul erat di antara ruang dan waktu

Susunan-susunan jala sebagai manifestasi pemikiran manusia
Tidak terlibat dalam lingkaran angka dan petak teka-teki
Sekarang, saatnya terjun menghujam pada realita

Lingkaran kaca menjadi sisi melingkupi nafas kita
Melihat ke dunia luar yang luas, namun terbatas
Tidak akan pernah ada sepenggal kata yang tereja di udara

Nyaris tidak ada gelembung dan buih, tidak ada kerlip pada konstelasi bintang raya
Namun, beberapa di antaranya menumbuk bumi
Merajam godam, membuat hati turut berdenyar

Di dalam bejana kaca semuanya akan berubah
Menjadi benda kuning dan bayangannya bersama air, melayang
Aku tenggelam di setengah ketinggian air, sendiri
Ada cahaya menyesap ke dalam mata

Di suatu tempat, jiwa dan akalku berkelana
Menjamah sebuah tempat dengan jajaran cendana dan beringin tua
Nafasku terlepas dan aku tak pernah memejamkan mata

Lentera

Nafasmu hanya sebatas lika-liku nyala api
Di dalam kertas dan kain lilin yang menyelimuti, kau meliuk dan terhempas
Menjejaki terang kepada bayangan yang turut bergoyang
Kau tetap berpendar, meski bara yang tersisa dengan udara yang kau habiskan

Di sekitar suram dan sisi yang redup nyalamu berbinar
Di sini, geranganmu bergelayut pada senja
Pada tepian batas antara siang dan malam percikanmu tetap terasa
Menyesap benderang di sudut mata

Sepenggal kisah kemenanganmu selalu terukir
Pada setiap lorong-lorong jiwa kami sekarang
Tertanam, menghujam pada labirin lembab dan pengap
Tempat kita beradu mesra dengan kegelapan

Seberkas cahaya merajut tipis dalam lingkar harapan
Seperti selongsong peluru yang terlepas dari badan senapan
Kosong, tak bertuan, tak berpuan

Maut yang mengulur jeruji rodamu pada pemberhentian

Dan detik yang jatuh tidak lagi kau dengar

Sesegera, irama nafas menjelang lirih dan terpukul pilu
Sedihku turut meleleh di tepian kelopak mata

Lidah yang terrasa kelu dan dada yang terrasa penuh

Dengan gemertak gigi yang menjelang,

Aku menepis berita dari suar mulut sang jalang

Kini tinggal namamu tetap tersirat pada huru hara yang melintang
Ada setumpuk keliping yang menyajikan lengkung tipis di batas bibir

Sembab laraku telah pergi, kini Aku merajut kidung menuju terang

Berharap ada semangat yang kau kirim bersama hujan

Menunggu waktu diperlintasan usia, hingga fajar tak sempat bersandar

Aku akan segera menyapamu, dari jendela di sisi istana Mayapada

"

Pagi-pagi, aku mengitari pematang sawah di kaki Argopuro saat matahari masih malu merekah di balik punggung Raung. Luasnya tak kupikirkan seberapa luas ukuran pastinya, yang aku tahu sangatlah luas. Di suatu sudut, aku melihat pemandangan yang kusorot perlahan, berayun lembut memantulkan seberkas cahaya yang menerpanya. Aku mendekatinya…

-Reliefness-

"